Senin, 03 Oktober 2016

KAJI ULANG POLA PERKALIAN 2 DIGIT / LEBIH

KAJI ULANG POLA PERKALIAN BERSUSUN KONVENSIONAL


Perkalian berususun pada prinsipnya memiliki bentuk pola yang khas, Bersifat general (untuk bilangan berapa pun) Baik pada perkalian 2 digit, 3, 4, 5 bahkan berapapun digit yang akan di kalikan selalu dimulai dari satuan kali satuan dan diakhiri dengan angka yang menempati posisi bilangan terbesar.
Tapi mudahkah pola tersebut digunakan sebagai cara berhitung perkalian ?

Pada saat diminta menyelesaikan perkalian yang melibatkan 2 digit angka atau lebih seperti 84 x 67 atau 3 digit angka 867 x 394. Saat itu juga timbul perasaan malas atau jika harus melakukan secara manual. Alat bantu hitung akan menjadi suatu pilihan utama dibandikan harus menyelesaikannya secara manual. Lebih cepat dan teruji kebenarannya.

Mengapa kita enggan menyelesaikan perkalian tersebut secara manual. Mungkin salah satunya adalah proses berpikir pada setiap langkah pada pola secara simultan atau berkelanjutan menjadi suatu alasan
Bandingkan ketika kita diminta untuk menulis suatu kalimat sederhana. Tanpa merasa terbebani menulis langsung secara manual. Menulis menjadi pilihan utama dibandingkan harus mengetik. Proses merangkai dan meletakan huruf satu persatu sampai berakhir menjadi suatu kalimat yang diminta. Praktis dan sederhana.

Terdapat perbedaan dalam proses penyelesaian antara berhitung dan menulis. Ya memang sampai saat ini sebagian besar menggangap bahwa berhitung dan menulis adalah 2 hal yang berbeda. Proses menulis suatu kalimat dengan lebih lancar di mungkinkan karena semua huruf yang akan dituliskan telah mencapai tingkatan memori (hapal secara bentuk dan mampu menampilkannya) serta pengetahuan untuk meletakan masing-masing huruf yang akan dituliskan. Berbeda dengan berhitung walaupun kita sudah memiliki tingkatan memori akan semua hasil dari suatu perkalian tapi kita tidak dapat menuliskannya secara langsung setiap angka perkalian yang dihasilkan.

Adanya proses menyimpan, dan menjumlah dengan angka yang disimpan untuk setiap hasil perkalian. Pada setiap langkah pola penyelesaian ada dua perintah sekaligus yang harus dijalankan (tulis dan simpan). Proses perkalian serta penjumlahan sekaligus tentunya memberikan beban otak berpikir. Bandingkan dengan menulis, proses berpikir terjadi sebelum kata atau kalimat itu di rangkai atau ditulis. Berhenti hanya bila kata atau kalimat yang akan dituliskan telah selesai dituliskan. Berbeda sekali dengan berhitung perkalian 2 digit atau lebih selalu berhenti setiap menyelesaikan setiap langkah sebelumnya untuk berpikir menyelesaikan langkah pola selanjutnya.

  1. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Bukankah kita sudah mencapai tingkatan memori untuk setiap angka yang akan dikalikan.
  2. Dapatkah kita menjalankan proses menghitung seperti halnya proses menulis?

Berhitung yang mudah menjadi suatu keinginan dari setiap pengajar. Tapi pernahkah kita terbersit dalam pikiran kita.

  1. Apakah pola perkalian yang diajarkan selama ini sudah merupakan cara yang termudah sehingga di bakukan untuk di ajarkan pada peserta didik ?
  2. Apakah pernah diujikan secara ilmiah serta teori apa yang mendukung pola perkalian tersebut sehingga layak untuk dijadikan cara menyelesaikan perkalian 2 digit atau lebih? (Kepada guru dan pembaca yang mengetahuinya saya berterimakasih atas jawabannya)
  3. Adakah pola lain yang bersifat general (untuk perkalian berapapun) dan memiliki keteraturan pola untuk berapapun banyaknya digit yang akan dikalikan (tak terbatas) yang lebih mudah ?

Untuk itu kita perlu mengkaji kembali kegiatan dari MENULIS dan BERHITUNG pada pola pekalian 2 digit atau lebih

Kegiatan menulis dan berhitung jika kita kembalikan pada teori Fungsi dan Cara otak (Robert Wallcot Sperry) penelitian yang beliau lakukan di tahun 1961 bahwa otak di bagi menjadi 2 bagian hemisfer kanan dan hemisfer kiri yang memiliki cara kerja yang berbeda. Atas penelitiannya beliau dianugrahkan hadiah Nobel pada tahun 1981. Dari penelitiannya diungkapkan bahwa menulis dan berhitung merupakan fungsi dari belahan otak kiri.




Untuk itu perlu sekali meninjau kembali bagaimana cara kerja otak kiri dalam menjalankan proses berhitung dan menulis. Cara kerja otak kiri yang bersifat linear, teratur, urutan, tidak bercabang, menyelesaikan hal secara satu persatu berbeda dengan cara kerja otak kanan yang bercabang dan menyelesaikan hal secara holistik (keseluruhan).

Kegiatan menulis pada prosesnya sangat sesuai dengan cara kerja otak kiri tapi pada kegiatan berhitung cara kerja otak kanan lebih dominan nampak dalam setiap proses penyelesaiannya.

Setiap hasil perkalian dibuat dengan mencabangkan menuliskan suatu angka satuan dan menyimpan angka puluhan dari setiap angka yang dikalikan. Menyatukan setiap hasil perkalian dengan angka puluhan yang disimpan (menyatukan beberapa hal sekaligus).

 

 
Kesimpulan BERHITUNG itu FUNGSI OTAK KIRI mengapa menggunakan Cara bekerja OTAK KANAN

Untuk itulah perlu mengkaji ulang pola urutan pada perkalian 2 digit atau lebih yang diajarkan selama ini.



Catatan kecil dalam dunia berhitung
BERHITUNG SEPERTI MENULIS (SUPRIYADI) 0-8888-110-263

Rabu, 25 Mei 2016

Sudahkah Kita berhitung Sesuai Cara kerja Otak :



Sebuah Opini untuk Berdiskusi

Berhitung adalah salah satu cabang dari matematika yang mempelajari operasi penjumlahan, operasi pengurangan, operasi perkalian, dan operasi pembagian. Sedangkan kemampuan berhitung adalah kemampuan yang memerlukan penalaran dan keterampilan aljabar termasuk operasi hitung di dalamnya. 
Memiliki kemampuan berhitung merupakan prasyarat untuk mempelajari metematika. Kemampuan berhitung merupakan pondasi utama seorang anak untuk dapat mempelajari matematika. 

Selain itu kemampuan berhitung merupakan salah satu kemampuan yang penting dalam kehidupan sehari-hari (life Skill), dapat dikatakan bahwa semua aktifitas kehidupan manusia memerlukan kemampuan ini.
Patut diketahui proses pengajaran berhitung sudah dimulai sejak dini sebelum anak mengenyam pendidikan secara formal (prasekolah), umumnya orangtua mengenalkan pelajaran berhitung kepada anak anaknya melalui sebuah lagu dengan visualisasi jari mereka (lagu satu-satu aku sayang ibu). Saat itu anak belajar konsep membilang. Selanjutnya di sekolah baik PAUD, TK anak-anak mulai diajarkan mengenal konsep jumlah dan berhitung konkret melalui benda ataupun gambar. Lalu pada saat sekolah dasar awal (kelas satu dan dua), anak mulai diajarkan konsep angka sebagai penganti jumlah dalam berhitung.

Pada saat itulah semua elemen pendidik berusaha menanamkan angka sebagai sebuah nilai pengganti dari sebuah jumlah. pada masa ini mereka mulai belajar mengenal angka, angka 2 untuk mengantikan 2 mangga dan 5 untuk mengantikan jumlah 5 mangga. Angka merupakan bentuk abstrak yang harus dipelajari anak didik untuk menunjang kemampuan berhitungnya kelak.

Saya memiliki pertanyaan mengelitik ketika anak yang sudah mengenal angka harus kembali belajar berhitung dengan alat bantu (benda maupun anggota tubuh) dalam berhitung dalam upaya meningkatkan kemampuannya dalam berhitung. Jika kita sudah mengajarkan ANGKA pada siswa berarti kita sudah memberikan suatu bentuk yang abstrak kepada otak mereka tentang jumlah.  

Dengan mengajarkan penggunaan alat sebagai media bantu dalam berhitung tentunya kita membawa kembali bentuk yang abstrak ke bentuk nyata. Jika kita mau telaah kembali, apakah yang dipelajari anak konsep jumlah atau hanya suatu simbol lain. Bukankah Angka adalah symbol universal yang  digunakan dalam berhitung dan matematika. Artinya anak mempelajari beberapa simbol yang akhirnya dikonversi kembali kedalam bentuk angka. Bukankah ini suatu langkah yang menghambat kemajuan siswa pada akhirnya. Anak mempelajari dua bentuk simbol dalam berhitung

Matematika sampai saat ini masih menjadi pelajaran yang sulit bagi sebagian besar anak. Hal ini sesuai dengan Riset PISA tahun 2012, Indonesia menduduki peringkat ke -64 dari 65 Negara dalam kemampuan matematika. Yang artinya hanya 1% anak Indonesia memiliki kecakapan dalam Matematika.

Jika kita mau mengkaji akar permasalahan mengapa anak sulit dalam mempelajari matematika, Salah satu faktor utamanya adalah karena tidak memiliki kemampuan dalam berhitung yang baik. Tanpa bermaksud menyalahkan siapapun ketika anak yang telah lulus sekolah dasar tidak mampu menjawab langsung sebuah pertanyaan 8 + 7 atau 8 x 7 itu berapa ?

Mari kita flash back bagaimana mengajaran berhitung selama ini ? Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini dapat mewakili mengapa anak sulit dalam mempelajari ilmu berhitung dari segi aspek metode dan cara yang digunakan dalam proses pengajaran.

  1.  Sudahkah anak merasa nyaman dalam mempelajari cara berhitung saat ini ?
  2. Apakah anak memiliki keyakinan akan setiap hasil yang telah ia hitung ? 
  3. Apakah dalam berhitung otak merasa terbebani
  4. Apakah cara berhitung yang dipelajari sudah mudah dan menyenangkan?

Kita adalah User dalam berhitung
Dalam pengajaran berhitung selama ini kita hanya di ajarkan suatu cara berhitung tanpa pernah bertanya mengapa ?
  1.  Mengapa dalam berhitung kita harus memulainya dari belakang sedangkan kita membaca dan menuliskan suatu bilangan dari depan.
  2. Teori apakah yang melandasi cara tersebut sehingga kita harus mengajarkan dengan cara tersebut.
  3. Apakah ada cara lain dalam berhitung selain yang diajarkan di sekolah pada umumnya ?
Mari kita kaji kembali dengan hati terbuka untuk menjawab pertanyan 1 dan 2. Jangan kita katakan dari dulu memang sudah begitu atau Sudah dari Sono-nya dalam menjawabnya. Selama ini dari Sekolah dasar hingga perguruan tinggi jika secara jujur kita tidak pernah di beri alasan mengapa kita harus berhitung menggunakan cara tersebut. Apalagi tahu akan teori yang melandasi cara berhitung tersebut. Sungguh suatu yang fatal jika proses mengajarkan ilmu berhitung hanya berdasar sebuah tradisi.

Cara tersebut bagi sebagian kalangan matematikawan masih dianggap susah dalam proses mempelajarinya. Sehingga mulai terdapat beberapa inovasi dalam cara berhitung. Mulai dari yang menggunakan alat atau tanpa alat. Jika kita mau membuka halaman google, kita akan dapatkan berbagai cara yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berhitung seperti Mental Math, Speed Math, Mental Aritmatik, Trancerberg, Vedic ataupun kombinasi dari cara cara tersebut.

Tapi sekali lagi ada suatu pertanyaan yang besar bagi saya. Mengapa? dan apa yang mendasari cara tersebut sehingga anak harus mempelajarinya untuk meningkatkan cara berhitung mereka selain Mudah, Gampang, Menyenagkan, Simpel dan praktis.  Dan mengapa cara tersebut jika memang baik dan mudah mengapa sekolah sebagai tempat anak belajar tidak menggunakannya sebagai pilihan dalam proses pengajaran.

Bukankah gampang, menyenangkan, simple dan praktis adalah sebuah hasil dari proses otak dalam berhitung. Sudahkah cara cara tersebut di kaji dari sisi cara kerja otak dalam berhitung ?

Baiklah sebelum saya menjelaskan metode yang akan saya perkenalkan. Lebih baik saya menjelaskan dulu Penelitian Roger Wolcott Sperry tentang otak dan teori otak dalam berhitung

Roger Wolcott Sperry (Hartford, 20 Agustus 1913 - 17 April 1994) ialah seorang neuropsikolog yang menemukan bahwa akal manusia terdiri atas 2 bagian. Ia menemukan bahwa otak memiliki fungsi yang terspesialisasi di sisi kiri dan kanan, dan kedua sisi itu dapat berfungsi praktis tanpa bergantung satu sama lain. Karya Sperry membantu pemetaan otak dan membuka seluruh bidang masalah psikologi dan filsafat. Sperry dianugerahi Hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1981 bersama dengan David Hunter Hubel dan Torsten Nils Wiesel. (sb : Wikipedia Indonesia)

Sebagai hasil dari penelitian beliau kita mengenal tokoh-tokoh terkenal lainnya seperti GADNER dengan Multiple Intelegent dan Tony Buzan dengan Mind Mappingnya. Semua penelitian mereka mengacu akan hasil dari penelitian yang telah dilakukan Roger Wolcott Sperry yang menjelaskan bahwa otak memiliki fungsi yang terspesialisasi di sisi kiri dan kanan, dan kedua sisi itu dapat berfungsi praktis tanpa bergantung satu sama lain.

Untuk itu sebelum kita mempelajari suatu metode dalam berhitung adalah baik kita mempelajari fungsi dan cara kerja otak dalam berhitung.
Matematika (berhitung), Menulis adalah bagian dari fungsi otak kiri dan cara bekerja otak kiri adalah linear, teratur, urut (menangani hal satu persatu) berbeda sekali dengan otak kanan yang berkerja secara acak tidak teratur, menangani hal banyak sekaligus (global). Sehingga timbul suatu pertanyaan kembali?

  1. Apakah kita dalam mengajarkan berhitung sudah sesuai dengan fungsi dan cara kerja otak dalam berhitung?
  2. Apakah metode berhitung yang ada selama ini sudah sesuai dengan fungsi dan cara kerja otak dalam berhitung?

Sekedar mengingatkan, kita pernah mendapatkan istilah Lima di jari satu di otak ketika proses pembelajaran penjumlahan di masa kanak-kanak. Bukankah itu suatu bukti bahwa otak tidak mampu menerima dua instruksi sekaligus dalam satu waktu. Sehingga kita memerlukan bantuan jari dalam berhitung.
Cobalah menjumlahkan 567 + 765 berapa dan 567 x 879 itu berapa? Lakukan cara tersebut dengan menjumlah dan mengkali dari belakang. Apa yang otak anda rasakan saat ini. 
  • Apakah otak anda merasa terbebani? 
  • Bagaimana jika pertanyaan tersebut diajukan kepada siswa didik kita kelas 3 dan mulai belajar perhitungan tersebut. 
  • Bagaimana tingkat keberhasilan mereka? 
  • Apakah otak mereka akan terbebani? 

Ya perhitungan dari belakang selalu menyertakan dua instruksi atau lebih ke dalam otak secara simultan.
Kita saat ini selalu berangapan bahwa berhitung dan menulis adalah sesuatu yang berbeda dan terpisahkan. 

  • Bukankah berhitung dan menulis merupakan kesatuan dari fungsi otak kiri?
  • Bukankah Berhitung dan menulis memiliki cara kerja kerja yang sama ?

Cobalah Menulis “Aku ingin belajar berhitung lagi” . kita dengan mudah menuliskannya bukan. karena menulis kalimat tersebut tidak diperlukan kemampuan berpikir yang dalam. Kita tahu harus memulai dengan menuliskan huruf apa, lalu diikuti huruf apa hingga diakhiri dengan huruf apa untuk menjadi suatu kata, menguntai kata demi kata menjadi suatu kalimat. Dalam menulis terjalin koordinasi otak dan tangan, Otak memberikan instruksi secara simultan atau berkesinambungan huruf apa saja yang harus dituliskan satu demi satu untuk menjadi sebuah kata. Dan kita tahu tidak akan menuliskan huruf “K” sebelum menuliskan huruf “A” di awal kalimat karena kita sudah tahu letak dan posisi huruf yang akan dituliskan bukan? Otak sudah hapal semua bentuk huruf yang harus dituliskan dan memberikan instruksi ke tangan untuk menuliskannya. Terkesan mudah bukan. Yah karena otak sudah menyimpan semua bentuk huruf yang akan dituliskan.

Begitupun kita dalam berhitung jika sudah hapal penjumlahan dan perkalian satu angka dengan satu angka tentunya otak sudah menyimpan angka angka yang akan dihasilkan dari penjumlahan dan perkalian tersebut tinggal bagaimana kita menuliskan hasilnya dan menempatkan angka tersebut.

  • Mengapa kita harus memisahkan antara berhitung dan menulis menjadi sesuatu hal yang berbeda?
  • Mengapa kita tidak mencoba menjadikan kesatuan antara menulis dan berhitung?

Itulah yang mendasari metode yang saat ini coba saya hadirkan “BERHITUNG SEPERTI MENULIS”
Otak tidak memerlukan kemampuan berpikir yang dalam ketika berhitung tanpa memerlukan proses membayangkan (Visualisasi atau foto frame) cukup tulis dan tulis. Sebuah jawaban terbentuk di akhir tulisan.

Bagaimanakah proses berhitung yang sesuai dengan fungsi dan cara kerja otak melalui Metode Berhitung seperti Menulis ?

Dapaktkan semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas dengan mengikuti kegiatan :





Bottom of Form
Bottom of Form
Bottom of Form
Bottom of Form

Selasa, 26 April 2016

Berhitung vs Pemahaman

Berhitung vs Pemahaman

    berhitung vs pemahaman
  1. Sebuah bak air terisi penuh berukuran 100 L. Andi akan mengambil air dari bak tersebut dengan menggunakan ember berukuran 0,1 dari ukuran bak. Berapa liter ukuran ember Andi?
  2. Sebuah bak air kosong akan diisi air melalui ember berukuran 0,1 dari ukuran bak. Butuh berapa ember supaya bak terisi penuh?
Kedua soal diatas saya berikan kepada 15 siswa kelas 6 SD. Mereka hanya mampu menjawab soal 1 saja, tidak mampu menjawab soal 2. Soal 1 hanya soal berhitung saja sedangkan soal 2 adalah soal pemahaman. Untuk bisa mengerjakan soal 2, mereka harus paham konsep pecahan. Melihat mereka tidak mampu mengerjakan soal 2 menunjukan pemahaman mereka tentang pecahan masih lemah.
Akan tetapi saya tidak bisa menyalahkan mereka karena mereka sebenarnya adalah cerminan produk kurikum kita yang payah. Kurikulum kita membuat matematika hanya terfokus dengan berhitung bukan pemahaman konsep matematis. Kurikulum yang ada saat ini hanya membuat anak-anak pandai berhitung saja lalu apa bedanya dengan kalkulator? Padahal dalam mempelajari matematika yang teramat penting sekali buanget adalah pemahaman konsep matematis bukan berhitung.  
Bagi saya, percuma kamu bisa menghitung {\displaystyle \lim_{x\rightarrow0}\frac{\sin x}{1-\cos x}} tetapi tidak paham konsep limit.
Saya dengar akan ada perubahan kurikulum diganti dengan kurikulum 2013 tapi jujur saya tidak terlalu berharap.
sumber gambar: mathlanding.org

Bagaimana Otak Anak Mengingat Rumus Matematika dengan Mudah?

Bagaimana Otak Anak Mengingat Rumus Matematika dengan Mudah?

author : Ulfa Karina
Monday, 18 August 2014 - 06:00 pm

sciencedaily.com

Bagaimana otak anak mengingat rumus matematika dengan mudah?
Intisari-Online.com - Matematika selama ini menjadi mata pelajaran yang sangat dihindari oleh anak-anak di sekolah. Terkait hal tersebut, baru-baru ini dilakukan sebuah penelitian yang mencari tahu bagaimana otak anak mengingat rumus matematika dengan mudah?
Bagian otak yang melibatkan banyak pusat memori (hippocampus) berperan sangat penting untuk kondisi ini menurut penilitian yang dilakukan Stanford University School of Medicine tersebut. Anak-anak menggunakan bagian otak tertentu termasuk hippocampus dan korteks prefrontal, berbeda dengan orang dewasa ketika keduanya sama-sama memecahkan soal matematika.
 “Hal ini mengejutkan kita bahwa begitu besarnya peran hippocampus dan prefrontal sebagai ingatan dasar dan pemecahan masalah semasa anak-anak, berbeda dengan orang dewasa ketika memecahkan persoalan,” kata Shaozheng Qin,PhD, seorang sarjana postdoctoral.
Dalam penelitian ini, 28 anak-anak memecahkan masalah matematika sederhana, saat mereka mengerjakan soal, alat scanning otak memindai otak mereka sekitar 1 sampai 2 tahun secara terpisah. Para peneliti juga memindai 20 remaja dan 20 orang dewasa untuk perbandingan dalam waktu yang bersamaan.


Para peserta terdiri dari anak usia 7-9 tahun, remaja usia 14-17 tahun dan orang dewasa usia 19-22 tahun semua peserta memiliki IQ yang normal. Karena penelitian ini meneliti pembelajaran matematika secara normal, calon peserta dengan ketidakmampuan belajar matematika akan dikeluarkan.
Selama penelitian rata-rata anak dengan usia 8 sampai 9 tahunlah yang lebih cepat memecahkan soal matematika, dengan mengandalkan rumus-rumus matematika dari ingatan mereka kurang dari waktu yang ditentukan ketika mengerjakan soal.
Karena adanya pergeseran kemampuan ini, peneliti melihat beberapa perubahan dalam otak anak-anak. Hippocampus suatu wilayah dengan banyak peran dalam membentuk kenangan baru berperan lebih dalam pada otak anak-anak. Setelah satu tahun penelitian, daerah yang terlibat dalam penyelesasaian masalah matematika seperti prefrontal dan parietal cortex menjadi pun berkurang perannya.

Para ilmuwan melihat perubahan sejauh mana hippocampus terhubung ke bagian lain dari otak-otak anak-anak dengan beberapa bagian seperti preforntal, anterior korteks temporal dan parietal cortex lebih kuat ke hippocampus setelah satu tahun.
Nyatanya, semakin kuat koneksi tersebut  semakin besar pula kemampuan anak-anak untuk mengingat rumus matematika dari ingatan mereka.

Temuan ini menunjukkan titik awal untuk penelitian masa yang akan datang dalam meneliti faktor apa saja ketidakmampuan mempelajari matematika. Semoga hal ini bisa menjelaskan bagaimana otak anak bisa mengingat rumus matematika dengan mudah ketika belajar matematika. (Sciencedaily)


NB :

Jika kita sudah hapal penjumlahan dan perkalian satu angka dengan satu angka tentunya otak sudah menyimpan angka angka yang akan dihasilkan dari penjumlahan dan perkalian tersebut tinggal bagaimana kita menuliskan hasilnya dan menempatkan angka tersebut.
(Berhitunglah seperti menulis)


Sabtu, 23 April 2016

Konsep Membilang

Konsep Membilang



  Membilang digunakan oleh anak-anak untuk menunjukkan pengetahuan tentang nama angka dan sistem nomor (Wikipedia, ensiklopedia bebas, 2009). Membilang satu, dua, tiga dan seterusnya pada mulanya tidak bermakna bagi anak yang belum memahami bilangan. Anak bisa mengucapkannya tetapi tidak memahami apa artinya. Sejak anak mulai bicara, anak bisa mengucapkan satu, dua, tiga dan seterusnya hanya sekedar menirukan orang dewasa yang ada di lingkungannya dan belum memahami apa artinya. Ia tidak tahu bahwa bilangan merupakan simbol dari banyaknya benda. Hal itu dapat kita amati pada saat anak usia dua tahun menghitung benda. Bagi anak yang belum memahami bilangan, menghitung bisa dari mana saja dan kadang mengulang bilangan yang sudah dihitung dan belum bisa mengurutkan, apalagi kadang benda itu dihitung tidak sesuai dengan jumlahnya. 
Menurut Piaget (1972), anak TK berada pada fase perkembangan praoperasional menuju ke konkret. Anak pada fase tersebut belajar terbaik dari benda nyata. Oleh karena itu, orang tua dan guru dapat mengenalkan bilangan kepada anak dengan menggunakan benda-benda (Slamet Suyanto, 2008). Kemampuan membilang pada anak usia tiga dan empat tahun, yaitu: menghitung jumlah potongan kertas yang diperlukan untuk seni, menempatkan benda-benda yang diperlukan di sudut, menyusun balok-balok yang digunakan untuk membangun struktur berbentuk balok, menghitung jumlah kursi atau tikar yang dibutuhkan untuk kelompoknya, dan menempatkan benda sesuai dengan letaknya.
Pengalaman membilang paling banyak dialami oleh anak usia lima dan enam tahun. Kemampuan membilang pada anak usia lima dan enam tahun, yaitu: menghitung jenis alat-alat perlengkapan outdoor dan merekam sejumlah benda sehingga semuanya dapat diletakkan pada posisinya semula, menghitung berapa jumlah anak-anak yang tidak hadir setiap hari dan membuat perbandingan selama sebulan, menghitung angka dari potongan kertas yang diperlukan untuk proyek kelas dan mengalikannya untuk menemukan berapa banyak kertas yang akan diperlukan untuk dua proyek, dan menghitung bilangan 2-5-10. 
Anak usia tujuh dan delapan tahun dapat membilang, merekam, dan membandingkan angka-angka yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan mereka belajar untuk menghitung dengan bilangan tiga dan empat.

Pembelajaran Membilang pada Anak
Membilang dengan Jari
 Biasanya orang berlatih menghitung permulaan dengan jari tangannya karena dianggap paling mudah dan efektif. Dengan menggunakan jari-jari yang kita punya, konsep bilangan akan lebih mudah dipahami anak, karena anak dapat melakukan sendiri proses membilang. Hal ini perlu dilatihkan sejak usia dini agar anak terampil membilang dengan jari tangannya. Sebagai contoh guru dapat menanyakan berapa banyaknya jari tangan kirimu, menanyakan berapa jumlah jari tangan kananmu, kemudian menanyakan keseluruhan jumlah jari tangan yang dimiliki. 
Untuk memantapkan jawaban anak, guru mengajak anak untuk menghitung bersama-sama banyaknya jari tangan kiri dan tangan kanan. Setelah itu anak diminta untuk mencoba sendiri menghitung banyaknya jari tangan kanan dan kiri mereka.

Membilang Benda-Benda
 Guru dan orang tua dapat melatih anak menghitung benda yang ada disekitar anak baik itu di rumah, di jalan, maupun disekolah. Benda yang ada di rumah misalnya banyaknya kursi tamu, meja, pintu dan sebagainya. Benda yang ada di jalan, misalnya banyaknya roda mobil, roda motor, dan sebagainya.

Membilang Sambil Berolahraga
            Anak diminta membuat lingkaran kemudian guru menyuruh anak untuk membilang 1-5 secara bergantian sampai semua anak mendapat nomor. Setelah itu guru menyuruh untuk mengingat nomor dari masing-masing anak sehingga waktu guru membilang anak bisa menyebutkan sesuai dengan nomornya. Dilanjutkan dengan lari keliling lingkaran, kemudian guru menyebut nomor misalnya berdua, bertiga, berempat, dan seterusnya. Anak akan melaksanakan perintah guru. Disini sambil berolahraga konsep membilang dapat tertanam dalam diri anak.

Membilang Sambil Bernyanyi
Sambil bernyannyi anak dikenalkan dengan konsep bilangan misalnya dengan melalui lagu yang sesuai dengan bilangan yang akan dikenalkan, misalnya: lagu aku sayang ibu.

Membilang di atas Sepuluh
            Biasanya anak akan mengalami kesulitan menghitung diatas sepuluh yaitu pada bilangan sebelas. Untuk bilangan 12-19, pada prinsipnya sama yaitu angka tersebut ditambah dengan “belas”. Tetapi untuk sebelas ada pengecualian, yaitu tidak satu-belas melainkan sebelas, disini “se” artinya satu. Untuk itu guru perlu memperkenalkan polanya. Setelah anak tahu polanya maka anak akan mahir dalam menghitung sendiri.

Kegiatan Pembelajaran dan Assesmen 
Bermain Domino
Kartu domino berisi lingkaran yang mempresentasikan bilangan dari kosong sampai 12. Kartu tersebut baik untuk anak melatih menghitung dan mengenal pola. 
Alat dan bahan: kartu domino
Prosedur pembelajaran: 
Sediakan beberapa set kartu domino di kelas, setiap kartu untuk 5-6 anak. Ajarkan bagaimana cara bermain kartu domino secara sederhana dan yang paling cepat habis sebagai pemenang. Beri contoh bagaiman cara bermainnya. Setelah anak merasa bisa, beri kesempatan untuk bermain dalam kelompok 5-6 orang.
Assesmen: 
Observasi apakah anak sudah mampu menempelkan kartu dengan gambar yang sama? Jika sudah, berarti anak sudah mengenal pola dan menghitung 0-12.

Berhitung sambil bernyanyi dan berolah raga 
Alat dan bahan: gambar angka atau benda, peluit
Prosedur:
Buatlah gambar atau bilangan dan letakkan di lantai
Ajak anak membentuk dua lingkaran besar dan kecil. Ajak dua lingkaran anak berjalan berlawanan arah sambil bernyanyi. Pada saat peluit ditiup anak berhenti berjalan. Guru memberi aba-aba, misalnya "buat tiga kaki". Anak keluar dari barisan dan membuat tiga kaki. Peluit ditiup lagi dan berjalan sambil bernyanyi. Peluit ditiup lagi, guru memberi aba-aba "kaki di angka tiga". Anak-anak mencari angka tiga dan meletakkan kaki di atasnya. Demikian seterusnya sampai anak menunjukkan pemahamannya tentang bilangan dan angka.
Assesmen:
Pada setiap kegiatan, ajak anak mengkomunikasikan pemahamannya, misalnya: “Toni coba tunjukkan bahwa kelompokmu membuat tiga kaki”.

Menghitung Benda-Benda
Orang tua dan guru dapat melatih anak menghitung benda apa saja dan dimana saja. Di jalan ketika melihat mobil kita dapat bertanya “Berapa rodanya?” Jadi setiap kesempatan dan ada benda nyata latih anak untuk berhitung. Di kelas, guru dapat menggunakan berbagai benda untuk melatih berhitung, seperti: manik-manik, biji, permen, atau benda-benda untuk permainan.
Alat dan bahan: manik-manik, biji atau permen, gambar-gambar, pensil dan klip kertas atau peniti dan kertas.
Prosedur:   
Buat lingkaran dan beri angka 1-9 dengan satu titik di tengah. Letakkan peniti atau penjepit kertas di titik tengah dan tekan dengan ujung pensil. Ajak anak memutar peniti atau penjepit kertas tersebut dan melihat jatuh di angka berapa. Jika peniti menunjuk ke angka 5 maka anak mengambil 5 biiji atau 5 permen. Permainan dilanjutkan sampai semua biji dan permen habis.
Assesmen:
Ajak anak mengekspresikan hasil temuannya, motivasi dengan pertanyaan sebagai berikut: Siapa yang memperoleh biji paling banyak? Berapa biji yang kamu peroleh? Apa cara yang kamu gunakan sehingga memperoleh biji paling banyak?

Bermain Dadu
Alat dan bahan: dadu dengan angka 1-g atau lainnya, bii atau manik-manik.
Prosedur:
Gunakan dadu yang memiliki angka 1-6. Gunakan manik-manik atau biji-bijan. Beri contoh anak melempar dadu dan melihat angka yang muncul. Jika muncul angka 5, ajak anak tersebut mengambil 5 biji atau manik-manik. Jika muncul angka 3 ajak anak mengambil 3 biji atau manik-manik. Demikian seterusnya hingga semua biji atau manik-manik habis.
Assesmen:
Diskusikan pada anak siapa yang memperoleh biji paling banyak yang strategi yang mereka gunakan. Hubungkan antara strategi dan perolehan biji.

Bermain Flash Card
Alat dan bahan: flash cards (seri angka)
Kenalkan pada anak cara bermain flash card. Setelah anak mengerti, ajak anak untuk bermain. Urutkan dahulu kartu-kartu tersebut, biarkan anak mengenal angka-angka tersebut dan menyebutkan nama angka tersebut. Ciptakan permianan dengan variasi, misalnya kartu dikocok secara acak kemudian dibuka dan anak diarahkan untuk menebak angka berapa. Dapat juga guru menyebar kartu-kartu tersebut kemudian guru menyebutkan satu angka dan anak diminta untuk mencari angka yang diminta oleh guru.
Assesmen:
Komunikasikan pada anak siapa yang paling cepat menebak angka yang diminta oleh guru. Tanyakan pada anak apa kesulitan dari permainan tersebut, untuk mengetahui sejauh mana anak paham mengenai angka.

Bermain Garis Bilangan
Alat dan bahan: papn tulis, spidol, tempelan bentuk lingkaran, perekat.
Prosedur:
Guru menggambar garis bilangan di papan tulis. Guru menyiapkan magnet berbentuk bulat apabila papan tulis dapat ditempeli dengan magnet. Bila papan tulis tidak bermagnet, maka guru menyiapkan bentuk bulat atau bentuk lainnya kemudian diberi perekat dibelakangnya agar bisa direkatkan di papan tulis. Anak diberikan pemahaman mengenai angka. Kemudian anak diberikan kesempatan untuk menempelkan bentuk bulat tersebut diatas garis bilangan. Ajak anak bergantian untuk melakukan kegiatan ini.
Assesmen:
Ajak anak mengkomunikasikan pemahamannya. Pemahaman mengenai angka-angka tersebut. Dan hubungannya angka tersebut dengan tempelan bulat diatasnya.

Bermain Kalkulator
Jika disekolah ada kalkulator atau komputer, maka keduanya dapata digunakan untuk mengenalkan anak akan angka. Biarkan anak-anak bermain dengan kalkulator dan tanyakan apa yang mereka temukan. Misalnya: anak menemukan bahwa ketika ia memasukkan angka sembarangan lalu ia menekan tombol C maka semua angka hilang. Tanyakan pula angka berapa yang ada. Tanyakan pula angka berapa jika ada sebelas atau sepuluh. Beri kesempatan anak untuk melakukan eksplorasi sambil bermain kalkulator dan dengan angka.

Digit
Setelah anak-anak memahami angka 1-9, kenalkan mereka dengan angka 10-20. Angka 1-9 adalah angka 1 digit, sedangkan 10-20 adalah dua digit. Angka 0 sebaiknya juga diperkenalkan. Beri problem solving untuk dipecahkan anak. “Saya punya angka ajaib antara 10-30. Jika kamu dapat menebaknya, kamu memperoleh sebuah buku cerita bagus. Angka itu dua digit dan jika dijumlahkan sama dengan 6. Berapakah angka tersebut?” biarkan anak mencoba memecahkannya dengan caranya sendiri. Guru dapat pula memberi peluang anak untuk bertanya dengan pertanyaan yang hanya dapat dijawab dengan “Ya” atau “Tidak”. Misalnya anak bertanya, “Apakah angka tersebut lebih besar dari sebelas?”.